Label

Jumat, 18 Mei 2012

Mari Bersekutu dan Berfastabiqul Khairat


Penelusuran mencari berita pagi hari ini terpaksa ku hentikan saat kutemukan satu artikel yang berjudul “Potong Rambut Gratis Kaum Gay Diserbu Pengunjung”.
Wow !
fantastic sekali !
saya spontan berpikir, tanpa ditodong bagaimanakah nanti jadinya karakter bangsa yang beradab ini ?
Kelompok  yang menamai dirinya Igama (Ikatan Gaya Nusantara) ini melakukan aksi besar-besaran dengan potong rambut gratis di Malang, potong rambut di sini dimaksudkan dengan gaya yang sedang trend sekarang karena sebagian besar dari mereka berprofesi sebagai tata rias. Selain itu mereka juga memberikan jajanan kepada para pengunjungnya untuk mencari dukungan dari masyarakat atas keberadaan mereka. Kelompok ini mengklaim jumlah anggotanya di Indonesia sebanyak 3000 orang. Dan saya pikir ini adalah strategi mereka untuk memperluas dukungan dan penerimaan masyarakat terhadap dirinya. Masyarakat dibuat terbiasa dengan hal-hal yang awalnya dianggap tabu dan melanggar norma.
Masyarakat dibuat begitu senang dengan sedikit sogokan materi yang tak seberapa, namun tahukah imbasnya ? kaum gay ini akan merajalela menggaung-gaungkan tuntutan akan kebebasannya. Berdalih untuk memperingati International Day Against Homophobia and Transphobia (IDAHOT) tepat 17 Mei kemarin, homophobia dan transphobia merupakan bentuk kebencian terhadap gay, transgender.
Namun, bukan perkara ini yang saya fokuskan ! Kejadian ini sudah seharusnya menjadi sebuah refleksi bagi kita, bukan lagi mempersalahkan dan memperdebatkan sikap yang diambil ikatan gay itu, sedangkan kita manusia yang ‘normal’ tetap tidak melakukan apa-apa. Sama saja ! lebih baik diam dan sok-sok tidak tahu.
Karena itu kebebasan mereka untuk melakukan aksi tersebut. Marilah kita tilik dan renungi kembali. Jika kaum gay yang dipandang sangsi oleh masyarakat saja bisa bersekutu menjadi satu dapat melakukan sesuatu hal yang ‘dianggap’ baik dan bermanfaat oleh masyarakat, sedikit mempengaruhi paradigma masyarakat tentang mereka dan bahkan benyak memberikan simpati kepada mereka. Sudah sepantasnya kita sebagai manusia ‘normal’ yang memiliki kewajiban menjaga dan membudayakan peradaban bangsa Indonesia ini juga bersatu dalam barisan yang rapi, menyelamatkan identitas bangsa ini, Indonesia yang bermartabat. Bersegera dalam berbuat kebaikan, berfastabiqul khairat dan ber amar ma’ruf nahi munkar mulai dari lingkungan kita sendiri.
Seperti apapun kejahilan yang bersekutu akan dapat mengalahkan kebaikan semulia gunung emas yang berkilau di ujung pandang lautan yang hanya dikerjakan satu raga. Begitu juga sebaliknya, kebaikan yang bersekutu juga akan menang jika jiwa dan raga yang berdiri serta berlari bersekutu menjadi satu menyuarakan satu maksud yang membahana membawa semangat perbaikan. Semangat bergerak !

Tidak ada komentar:

Posting Komentar