Penelusuran mencari berita pagi hari ini terpaksa ku hentikan saat
kutemukan satu artikel yang berjudul “Potong Rambut Gratis Kaum Gay Diserbu
Pengunjung”.
Wow !
fantastic sekali !
saya spontan berpikir, tanpa ditodong bagaimanakah nanti jadinya karakter
bangsa yang beradab ini ?
Kelompok yang menamai dirinya Igama
(Ikatan Gaya Nusantara) ini melakukan aksi besar-besaran dengan potong rambut
gratis di Malang, potong rambut di sini dimaksudkan dengan gaya yang sedang
trend sekarang karena sebagian besar dari mereka berprofesi sebagai tata rias. Selain
itu mereka juga memberikan jajanan kepada para pengunjungnya untuk mencari
dukungan dari masyarakat atas keberadaan mereka. Kelompok ini mengklaim jumlah
anggotanya di Indonesia sebanyak 3000 orang. Dan saya pikir ini adalah strategi
mereka untuk memperluas dukungan dan penerimaan masyarakat terhadap dirinya. Masyarakat
dibuat terbiasa dengan hal-hal yang awalnya dianggap tabu dan melanggar norma.
Masyarakat dibuat begitu senang dengan sedikit sogokan materi yang tak
seberapa, namun tahukah imbasnya ? kaum gay ini akan merajalela
menggaung-gaungkan tuntutan akan kebebasannya. Berdalih untuk memperingati
International Day Against Homophobia and Transphobia (IDAHOT) tepat 17 Mei
kemarin, homophobia dan transphobia merupakan bentuk kebencian terhadap gay,
transgender.
Namun, bukan perkara ini yang saya fokuskan ! Kejadian ini sudah seharusnya
menjadi sebuah refleksi bagi kita, bukan lagi mempersalahkan dan memperdebatkan
sikap yang diambil ikatan gay itu, sedangkan kita manusia yang ‘normal’ tetap
tidak melakukan apa-apa. Sama saja ! lebih baik diam dan sok-sok tidak tahu.
Karena itu kebebasan mereka untuk melakukan aksi tersebut. Marilah kita tilik
dan renungi kembali. Jika kaum gay yang dipandang sangsi oleh masyarakat saja bisa
bersekutu menjadi satu dapat melakukan sesuatu hal yang ‘dianggap’ baik dan
bermanfaat oleh masyarakat, sedikit mempengaruhi paradigma masyarakat tentang
mereka dan bahkan benyak memberikan simpati kepada mereka. Sudah sepantasnya
kita sebagai manusia ‘normal’ yang memiliki kewajiban menjaga dan membudayakan
peradaban bangsa Indonesia ini juga bersatu dalam barisan yang rapi,
menyelamatkan identitas bangsa ini, Indonesia yang bermartabat. Bersegera dalam
berbuat kebaikan, berfastabiqul khairat dan ber amar ma’ruf nahi munkar mulai
dari lingkungan kita sendiri.
Seperti apapun kejahilan yang bersekutu akan dapat mengalahkan kebaikan semulia
gunung emas yang berkilau di ujung pandang lautan yang hanya dikerjakan satu
raga. Begitu juga sebaliknya, kebaikan yang bersekutu juga akan menang jika
jiwa dan raga yang berdiri serta berlari bersekutu menjadi satu menyuarakan
satu maksud yang membahana membawa semangat perbaikan. Semangat bergerak !
Tidak ada komentar:
Posting Komentar