Label

Jumat, 04 Mei 2012

Cerita tentang Hujan

Hujan, telah banyak menghamburkan harapan.
Dari para peladang sudut desa sampai pengojek payung pinggir kota.
Hujan, juga telah menggali emosi semua ingatan, membangkitkan angan serta luruh dalam syukur bahkan ribuan
Aku terpaku melihat butiran yang ikhlas jatuh dari peraduan, Kembali membekaskan kisah pengokoh masa depan.
Aku tertegun merasakan jatuhan, Kerlingan sejuk dahan hujan yang Tersedak saat tiba pada dermaga khayalan insan.
“Kau baik-baik saja ?”
“Alhamdulillah !”
“Nyamankah ?”
“Hhm, ternyata iya !”
“Kudoakan semoga lancar..”
“Terimakasih banyak”
“Nanti akan ku hubungi lagi”
Lagi-lagi, hujan datang membawa cerita. Cerita yang akan selalu bersatu dengan harmoni cinta.
Cinta yang kemudian menyatu menjadi bagian-bagian serunai perjalanan.
Hujan telah berkali-kali menahanku dalam ini keadaan.
Bergelut dengannya kembali menyulam langkah yang telah lama bungkam.
Menyembunyikan segala ratapan kerinduan di perantauan, meski hanya nyanyian musang yang kembali mengingatkan akan kampung halaman yang tak pernah suram dari merdunya Al-Qur’an.
Bahkan simphony cinta yang seringkali merayu pun tak kuasa untuk menahan, akan segala kisah hujan yang akan ku bawa pada gerbang kematian.
Tak berujung pada kelekatan iman aku dan bulan, bahkan cerita hujan selalu memaksaku untuk tetap tunduk pada perintah Tuhan, tak terkecuali dalam terpaksanya keadaan.
Cerita hujan kini berhasil menumpahkan segala harapan, dari membuang kisahku yang dulu suram dan kemudian menggantinya dengan sinar penuh harapan.
Kepada ibu bapak dan segala keterbatasan, atas nama diriku ku tepiskan juga bahwa kau adalah makhluk terindah setelah Rasulullah yang telah menghias kuncup hidupku dengan pelukan kasih sayang hingga ku menemukan Tuhan dalam kisah hujan pagi ini…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar