Label

Jumat, 18 Mei 2012

Mari Bersekutu dan Berfastabiqul Khairat


Penelusuran mencari berita pagi hari ini terpaksa ku hentikan saat kutemukan satu artikel yang berjudul “Potong Rambut Gratis Kaum Gay Diserbu Pengunjung”.
Wow !
fantastic sekali !
saya spontan berpikir, tanpa ditodong bagaimanakah nanti jadinya karakter bangsa yang beradab ini ?
Kelompok  yang menamai dirinya Igama (Ikatan Gaya Nusantara) ini melakukan aksi besar-besaran dengan potong rambut gratis di Malang, potong rambut di sini dimaksudkan dengan gaya yang sedang trend sekarang karena sebagian besar dari mereka berprofesi sebagai tata rias. Selain itu mereka juga memberikan jajanan kepada para pengunjungnya untuk mencari dukungan dari masyarakat atas keberadaan mereka. Kelompok ini mengklaim jumlah anggotanya di Indonesia sebanyak 3000 orang. Dan saya pikir ini adalah strategi mereka untuk memperluas dukungan dan penerimaan masyarakat terhadap dirinya. Masyarakat dibuat terbiasa dengan hal-hal yang awalnya dianggap tabu dan melanggar norma.
Masyarakat dibuat begitu senang dengan sedikit sogokan materi yang tak seberapa, namun tahukah imbasnya ? kaum gay ini akan merajalela menggaung-gaungkan tuntutan akan kebebasannya. Berdalih untuk memperingati International Day Against Homophobia and Transphobia (IDAHOT) tepat 17 Mei kemarin, homophobia dan transphobia merupakan bentuk kebencian terhadap gay, transgender.
Namun, bukan perkara ini yang saya fokuskan ! Kejadian ini sudah seharusnya menjadi sebuah refleksi bagi kita, bukan lagi mempersalahkan dan memperdebatkan sikap yang diambil ikatan gay itu, sedangkan kita manusia yang ‘normal’ tetap tidak melakukan apa-apa. Sama saja ! lebih baik diam dan sok-sok tidak tahu.
Karena itu kebebasan mereka untuk melakukan aksi tersebut. Marilah kita tilik dan renungi kembali. Jika kaum gay yang dipandang sangsi oleh masyarakat saja bisa bersekutu menjadi satu dapat melakukan sesuatu hal yang ‘dianggap’ baik dan bermanfaat oleh masyarakat, sedikit mempengaruhi paradigma masyarakat tentang mereka dan bahkan benyak memberikan simpati kepada mereka. Sudah sepantasnya kita sebagai manusia ‘normal’ yang memiliki kewajiban menjaga dan membudayakan peradaban bangsa Indonesia ini juga bersatu dalam barisan yang rapi, menyelamatkan identitas bangsa ini, Indonesia yang bermartabat. Bersegera dalam berbuat kebaikan, berfastabiqul khairat dan ber amar ma’ruf nahi munkar mulai dari lingkungan kita sendiri.
Seperti apapun kejahilan yang bersekutu akan dapat mengalahkan kebaikan semulia gunung emas yang berkilau di ujung pandang lautan yang hanya dikerjakan satu raga. Begitu juga sebaliknya, kebaikan yang bersekutu juga akan menang jika jiwa dan raga yang berdiri serta berlari bersekutu menjadi satu menyuarakan satu maksud yang membahana membawa semangat perbaikan. Semangat bergerak !

Sabtu, 12 Mei 2012

Semangat Kami Bertemu Dalam Bingkai Ukhuwah




Awalnya kami tak sengaja dipertemukan dalam sebuah forum yang bagi saya, Asing ! Tak ku kenal siapa-siapa namanya bahkan bahasa apa yang setiap hari disuarakannya untuk berbicara. Memandang wajahnya pun aku tak mampu, hhhmm.. bukan tak mampu tepatnya, namun aku sendiri merasa belum siap berhadapan dengan orang-orang yang terlihat luar biasa ini. Kami terdiri dari sosok yang dari segi manapun berbeda, latar belakang, asal daerah, bahasa, budaya, cara bicara, isi kepala bahkan isi kantong kita pun berbeda. Ada satu hal yang kemudian mempertemukan dan menamai kami dengan kata Mer.C (Mentoring Center) Sahabat Asrama, berat rasanya menyandang amanah itu, ngeri rasanya mengeja, namun kami justru senantiasa berusaha mempersatukan hati demi perbedaan yang sekian banyak manjadi suatu ikatan yang membawa langkah kami memenuhi amanah, ibadah dan dakwah yang dipinang hanya dengan sebuah makna ukhuwah.
Bukan berawal dari sebuah pertemuan di tepi danau yang tempias cahayanya terkilas dari jendela-jendela lusuh pojok asrama UI ini. Bukan sama sekali ! Pertemuan pada Jumat, 11 Mei 2012 itu bukan awalan. Tapi itu merupakan hasil rajutan cita-cita yang berdamai membentuk satu cinta perjuangan tangan-tangan yang tak mau tinggal diam saat peradaban jauh tertinggal ditelan zaman dan lenyap dari sebuah kata militan. Pertemuan menjelang senja kala itu kembali menumbuhkan bibit rona semangat yang belakangan tak tersentuh oleh lembutnya sapaan. Sapaan yang kemudian memberikan kabar bahwa sosok-sosok kami adalah bayangan nyata yang berjalan di atas bumi dengan segala kesibukan dan harapan akan berlangsungnya kemajuan peradaban agama yang mulia ini. Satu, sibuk dengan segala macam advokasi kampus yang harus beradu dengan amanah akhirat. Dua, sibuk dengan segala kegiatan akademisi yang juga harus bergelut dalam kategori da’i. Tiga, empat, lima dan seterusnya yang mungkin akan bergulat di sana dan tetap membangun satu rangkaian cita-cita kita.
Ditemani kilauan beriak danau yang dihiasi mozaik mentari yang hendak bertandang ke peraduannya kami semakin yakin akan kekuatan makna ukhuwah yang akan menguatkan tekad dan tujuan berasaskan tuntunan Illahi yang akan senantiasa kami jaga dan kami perjuangkan.
Semoga kita menjadi manusia-manusia langit J
Orang-orang yang terhubung ke langit, adalah orang-orang yang menanggung beban untuk membawa manusia ke jalan cahaya. Mereka menjadi manusia-manusia dengan ketahanan menakjubkan menghadapi menghadapi kebengalan sesama titah. Mereka menjadi orang-orang yang paling teguh hati, paling lapang dada, paling sabar, paling lembut, paling santun, paling ramah, dan paling ringan tangan. Keterhubungan dengan langit itu yang mempertahankan mereka di ats garis edar kebajikan, sebagai bukti bahwa merekalah wakil sah dari kebenaran (Dalam Dekapan Ukhuwah : 71)
InsyaAllah kita tidak akan salah pilih sahabat, menggadaikan jiwa-jiwa kita demi menumbuhkan kecintaan kita kepada Allah. Bahkan menyibukkan diri dan ikut dalam organisasi di asrama sebagai tempat tinggal kita adalah sebuah pilihan yang sangat ideal, ia akan banyak memberikan manfaat dalam proses sosialisasi kita disamping kesibukan kegiatan fakultas yang selalu kita bawa kemana-mana. Idealnya ikutilah satu organisasi di asrama dan satu di fakultas untuk menyeimbangkan kita sendiri, karena sekali lagi ia akan banyak sekali memberikan manfaat kedepannya. Jika lebih dari itu dikhawatirkan akan mengganggu kegiatan akademis kita sendiri, begitulah salah satu pesan bang Sani, mentor UISDP saya yang dulunya juga seorang aktivis Sahabat Asrama.
#Berkelas (Bekerja Ikhlas)

Jumat, 04 Mei 2012

Aku Ingin Menulis


Aku ingin melukis..
Aku ingin menangis..
Mengabarkan pada mereka yang bengis
Dan tak pernah simpulkan senyum yang manis
Lalu aku menulis..

Kisahku tak banyak yang tahu
Mungkin, hanya akar dahan yang sejak dulu membantu
Bahkan, daun yang gugur pun tertitah dan berlalu
Padahal aku berdiri tepat ia menggerutu
Praktis, aku lantas menulis..

Tak pantas bersembunyi
Jika malam saja menari dan mewangi
Tak lantas berarti hanya berdiam diri
Jika Dia saja menyambut dengan berlari
Maka di ujung tapis aku menulis..

Aku ingin menulis..
Sejenak apapun mimpi mengungkit
Aku ingin menangis..
Selemah apapun dari berdiri untuk bangkit
Aku ingin melukis..
Sejauh apapun tali sulit berkait
Membingkai kisah yang tak akan bisa berkelit
Jika telah rampung dalam bait,
Maka, tahukah engkau
Mengapa kini aku ingin menulis ?


Suciati Zen Nur Hidayati, Fakultas Psikologi
Peserta UI- Student Development Program

                                                14-03-2012 20:50
Asrama mahasiswa UI




Kata orang itu ukhuwah..
Yang tulus dikata megah lagi indah
Tapi, Yang nyata disaksi itu tak mudah
Dalam membalut setiap kisah
Bertajuk lingkup ibadah dan dakwah

Kata orang itu ukhuwah..
Yang berkumpul dalam padang kehangatan
Menghambur dalam ikhlasnya pandangan
Dan menyambut dalam rindu dekapan

Kata orang itu ukhuwah..
Yang bersadur dalam kolaborasi ibadah
Yang menyediakan bahu saat diserang amanah
Yang menggoncang kaki tetap istiqomah
Bukan malah hengkang dari dakwah

Kata orang itu ukhuwah..
Merasa sakit yang membukit
Di kala ada saling membelit
Bahkan, tak kuasa tuk mengungkit
Karena menyatu dan terkait
Serta terangkum dalam doa berbait

Maka itulah ukhuwah..
Yang senantiasa bersanding dalam jalan lillah


Suciati Zen Nur Hidayati, Fakultas Psikologi
Peserta UI- Student Development Program 2012

Sisi Lain Ibu Bapak yang Kini Kurindukan

Setelah menyelesaikan sholat Isya’ beberapa hari lalu, ponsel saya berdering dan tertulis ada panggilan dari teman dekat saya. Seketika saya mengangkat ponsel dengan penuh antusias, sejenak suara hening dari seberang. Beberapa detik kemudian saya mendengar suara isak tangis dari sambungan ponsel, dan saya baru menyadari bahwa suara tersebut menggambarkan rasa rindu yang mendalam. Dalam pembicaraan singkat malam itu dia banyak bercerita tentang kenangan kami dahulu dan membicarakan tentang kerinduannya kepada saya ketika ia bertemu dengan ibu saya.

Teman saya bercerita tentang isi hati ibu saya yang sesungguhnya. Sebelum saya diterima menjadi mahasiswi Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, saya sering menceritakan Fakultas Psikologi UI sebagai tempat tujuan belajar selanjutnya setelah lulus SMA kepada ibu. Ibu saya tidak merespon dengan baik apa yang sering saya bicarakan kepada beliau, beliau lebih sering hanya berkata “ooo…” dengan ekspresi datar dan menyarankan untuk melanjutkan kuliah di daerah saja. Ketika itu saya mengasumsikan bahwa ibu tidak menyetujui saya untuk kuliah di UI tanpa mengetahui alasan sebenarnya.

Dalam sebuah pembicaraan di telepon dengan teman saya, dia menceritakan bahwa ketika berkunjung ke rumah saya dan bertemu dengan ibu, ibu saya mengungkapkan bahwa ketika melihat dia beliau selalu ingat kepada saya. Karena hubungan pertemanan kami memang sangat erat, kami sering pergi ke masjid besar kota Kediri hingga malam hanya untuk saling berbagi cerita dan mengingat cita-cita. Dalam pertemuan itu ibu juga mengungkapkan alasan tentang responnya yang datar saat saya bercerita tentang UI. Ibu mengatakan bahwa beliau merasa tidak enak hati dan takut ketika saya memasang background gambar UI di layar desktop saya, beliau khawatir jika saya tidak mampu mencapainya saya akan stress. Beliau takut saya tidak bisa bangkit dan semakin terpuruk. Alhamdulillah, kekhawatiran beliau tidak terjadi. Kini saya sadar bahwa anggapan bahwa ibu tidak mendukung apa yang saya impikan terbukti tidak benar, justru beliau berpikir jauh ke depan untuk mengantisipasi kondisi psikis saya. Ibu telah jauh memikirkan tentang segala kemungkinan yang bisa terjadi tanpa saya sadari. Dahulu saya hanya beranggapan bahwa ibu terlalu primitif dan menyarankan saya untuk menjalani kehidupan biasa-biasa saja layaknya orang-orang di sekitar, sekolah di daerah kemudian menjadi PNS dan itu sudah cukup bagi seorang wanita.

Setelah saya mengetahui cerita di atas, sikap saya kepada ibu berubah. Sebelumnya saya hanya menanggapi biasa saja perhatian ibu terhadap saya, namun sekarang justru saya yang memiliki kebutuhan untuk memperhatikannya. Saya selalu memberikan kabar kepadanya, padahal sebelumnya seringkali saya tidak memberikan kabar tentang apa yang telah terjadi pada diri saya. Sekarang rasanya perhatian ibu merupakan hal yang sangat berarti. Begitupun dengan bapak saya, sebelumnya ketika di rumah saya mengenal bapak sebagai sosok yang dingin dan cuek terhadap lingkungan. Hal ini sering membuat saya bosan berada di rumah. Kini setelah saya benar-benar keluar dari rumah, saya merasakan perhatiannya dengan mendalam. Beliau selalu berusaha untuk sesegera mungkin memenuhi apa yang saya butuhkan, bahkan sebelum saya mengatakannya. Rasa khawatir yang kini ditunjukkannya tidak saya rasakan ketika dirumah. Entah karena keegoisan pribadi saya atau karena kini saya merasa butuh akan perhatian orangtua sehingga saya baru merasakannya. Saya mengenal beliau dalam bingkai sifat yang dingin, namun kini saya mengenal beliau dengan melihat sisinya yang sangat lembut sebagai seorang ayah.

Jarak yang memisahkan kami memacu saya untuk memberikan usaha yang terbaik untuk mereka, saya menyadari bahwa setiap hembus nafas yang bisa saya hirup pasti ada doa-doa mereka yang menyertai, ada air mata ketulusan di setiap malam-malam dalam sujudnya untuk mendoakan saya di sini. Saya harus berjuang untuk membalas usaha-usaha mereka untuk mengantarkan saya sampai pada kehidupan sekarang dan masa mendatang yang lebih baik.


Suciati Zen Nur Hidayati, Fakultas Psikologi

Peserta UI- Student Development Program 2012

Menjadi yang Terbaik atau Melakukan yang Terbaik ?

Menjalani proses terbaik atau mendapatkan hasil terbaik ? Tanpa pikir panjang kebanyakan orang akan berorientasi pada hasil yang terbaik. Di era serba globalisasi seperti sekarang ini, persaingan terjadi di berbagai sektor baik di bidang akademik, ekonomi, sosial dan politik. Tersedianya berbagai fasilitas yang sangat memudahkan akses informasi menyebabkan orang semakin mengandalkan teknologi dan malas berusaha dengan tangannya sendiri untuk meraih apa yang diinginkan.

Segala kemudahan yang kini bisa dinikmati masyarakat menyebabkan persaingan akademik juga kian ketat. Saya merasa ada hal yang aneh ketika melihat seorang teman yang bisa dibilang pandai daripada teman lain tetapi dia melakukan cara-cara tidak etis untuk memperoleh predikat lebih dari apa yang telah didapatkan. Misalnya dalam masa-masa menjelang Ujian Nasional banyak siswa menyusun strategi untuk mendapatkan nilai terbaik, entah dengan bekerjasama dengan teman saat ujian, mencari bocoran soal dan ada juga yang berusaha maksimal dengan belajar giat dan berdoa. Sebagian siswa yang serius bersekolah tentu akan belajar dan berdoa secara maksimal untuk mendapatkan hasil terbaik dari proses belajar terbaik pula yang dilakukannya. Namun sebagian siswa berdalih melakukan cara-cara tidak etis dengan alasan untuk membahagiakan orangtua dengan memberikan nilai yang baik. Menurut saya, melakukan usaha terbaik dengan bekal keyakinan yang penuh justru akan membawa langkah saya dalam mencapai hasil yang terbaik.

Sebuah proses belajar sekuat tenaga dengan hanya bergantung pada kemampuan diri sendiri dan Tuhan itulah sumber kekuatan saya, dengan itu saya memiliki tanggungjawab terhadap apa yang saya lakukan. Saya berorientasi untuk mendapatkan hasil terbaik dengan bercermin pada usaha saya, jika saya telah memberikan usaha terbaik maka hasil apapun yang telah dipilihkan Tuhan akan bisa saya terima dengan ikhlas. Sejak SMA saya telah menanamkan dalam hati bahwa untuk memperoleh hasil yang terbaik saya harus memberikan usaha terbaik yang bisa dilakukan. Jika saya telah berusaha melakukan usaha semaksimal mungkin namun hasil yang diperoleh tidak seperti harapan, saya akan selalu merefleksikan dalam diri dan meyakini bahwa hasil yang telah saya dapatkan adalah sesuai dengan usaha yang saya lakukan. Dengan demikian, saya merasa lebih tenang. Walaupun secara tidak langsung saya juga berorientasi pada hasil namun saya sangat menghargai usaha yang telah saya lakukan. Maka dengan hal tersebut perlahan-lahan saya menyadari dari hasil tersebut saya memahami hal yang harus saya perbaiki.

Seorang motivator pernah berkata bahwasanya jika seseorang melakukan cara-cara curang, maka balasan akan tetap mengikutinya. Bisa jadi ia akan lulus ujian dengan nilai terbaik, tapi belum tentu ia dapat melanjutkan kuliah di universitas terbaik. Jika ia dapat kuliah di universitas terbaik, belum tentu ia akan mendapatkan tempat kerja terbaik. Jika ia mendapat tempat kerja terbaik bisa jadi ia akan mengalami banyak masalah disana. Disadari atau tidak segala sesuatu yang telah dilakukan seseorang akan ada timbal balik yang sama kepadanya. Melakukan usaha terbaik akan mengarahkan langkah kita untuk meraih hasil yang terbaik pula.

Seseorang yang memiliki fokus pada tujuan akhir dan memiliki manajemen diri yang baik akan memulai setiap perjalanan hidupnya dengan cara yang baik pula. Setiap usaha terbaik yang dilakukan individu akan mengarahkannya untuk tetap berfokus pada benang merah tujuan utamanya. Jika niat seseorang sudah baik, mampu mengatur diri, maka hasil terbaik akan mengikutinya. Sebuah hasil usaha yang dicapai memberikan sebuah pelajaran kepada individu tersebut untuk selalu meningkatkan kualitas dirinya.

Suciati Zen Nur Hidayati, Fakultas Psikologi
Peserta UI- Student Development Program 2012

Cara Bicara Pria dan Wanita : Apa Bedanya ?

Hal apakah yang paling sering Anda amati ketika melihat 2 orang pria dan wanita sedang bersama ? Bagi saya, hal menarik untuk diamati ketika melihat 2 orang pria dan wanita sedang bersama adalah bagaimana cara mereka berbicara atau berkomunikasi. Gaya bahasa berkaitan pada perilaku seseorang (Strauss, 1959), dan Buchanan (1992) menyatakan bahwa tingkah laku seseorang dipengaruhi oleh bahasa, bahasa digunakan untuk meneliti aktivitas fisik. Satu hal menarik jika diamati, dengan adanya perbedaan cara komunikasi verbal antara wanita dan pria dapat menimbulkan persepsi yang terkadang berbeda perlu diketahui agar tidak terjadi kesalahpahaman antara gaya bahasa dan cara penyampaiannya pada maksud yang dikehendaki.

Berbicara adalah beromong, bercakap, berbahasa, mengutarakan isi pikiran, melisankan sesuatu yang dimaksudkan (KBBI, 2005:165). Menurut Tarigan (1983:15) berbicara adalah kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekspresikan, menyatakan serta menyampaikan pikiran, gagasan dan perasaan. Berbicara merupakan suatu sistem tanda-tanda yang dapat didengar (audible) dan kelihatan (visible) yang memanfaatkan sejumlah otot dan jaringan tubuh manusia demi maksud dan tujuan gagasan-gagasan atau ide yang dikombinasikan. Djago Tarigan dkk (1998:34), menjelaskan bahwa berbicara adalah keterampilan menyampaikan pesan melalui bahasa lisan. Pengertian di atas telah menjelaskan bahwa berbicara merupakan kegiatan fisik manusia untuk mengungkapkan tujuannya, jika pengungkapan ekspresi yang dikeluarkan seseorang berbeda maka akan menimbulkan pemahaman maksud yang berbeda pula. Terutama komunikasi verbal/berbicara yang terjadi antara pria dan wanita yang memiliki kondisi psikologis yang berbeda.

Pada dasarnya cara berbicara antara wanita dan pria berbeda, Kramer (1977) dan Tannen (1990) dalam (Frances Elaine Donelson, 1999) menyatakan stereotip bahwa wanita terus menerus berbicara, namun pada kenyataannya pria lebih banyak berbicara daripada wanita secara natural, pada kelompok lain jenis, dan bahkan ketika berbicara di sebuah alat perekam. Secara umum, pria menunjukkan dominansi dan statusnya dengan mengontrol setiap percakapan. Pria berbicara panjang lebar, lebih banyak berinterupsi dan mangontrol topik pembicaraan, Aires (1976); Busk (1982); Haas (1979); Hall (1984); Henley (1977); Lakoff (1975); Mayo & Henley (1990); dan Spender (1990) dalam Frances Elaine Donelson, (1999). Ketika pria tidak yakin terhadap apa yang diucapkan atau tidak menemukan kata yang tepat, mereka akan bergumam “Um” atau “Ah”. Sebaliknya, dalam keadaan yang sama wanita akan berhenti berbicara (Frances, 1979 dan Hall, 1987 dalam Frances Elaine Donelson, 1999).

Berikut perbedaan cara berkomunikasi antara pria dan wanita secara lebih detail berdasarkan hal-hal yang mendasar dalam proses berbicara,

Komposisi Pembicaraan

Berdasarkan stereotip, wanita bersifat temberang. Wanita sangat suka berbicara melalui telepon, mengobrol berjam-jam dengan tetangga sebelah, dan kebanyakan tidak mau diam. Dalam sebuah penelitian yang meminta pria dan wanita untuk menggambarkan 3 pekerjaan artistik, pria berbicara 4 kali sama seperti wanita. Faktanya, 3 dari 17 pria dalam penelitian tersebut berbicara selama 30 menit sejalan dengan berjalannya rekaman kaset dan tidak termasuk komentar yang dikeluarkan (Swacker, 1975 dalam Frances Elaine Donelson, 1999).

Pria lebih sering menginterupsi wanita daripada menginterupsi sesama pria (Busk, 1982; Carli, 1990, Hall 1984; McMillan, Clifton, McGrath, & Gale, 1977; McMullen, 1992; Smith-Lovin & Brody, 1989; Steward, Cooper, & Friedley, 1986; Zimmerman & West, 1975 dalam Frances Elaine Donelson, 1999). Smith-Lovin & Brody (1989) dikutip (Frances Elaine Donelson, 1999) Ketika pria mencoba menginterupsi sesama pria, mereka tidak sesukses ketika menginterupsi wanita. Ketika beberapa kali wanita menginterupsi pria, mereke berekspresi atau memberi dukungan dengan kata “Yeah”, “Mm-hmm”, “Benar”. Hal ini sulit untuk mempertimbangkan interupsinya, karena ekspresi tersebut justru memberikan dorongan kepada pria untuk terus berbicara. Zimmerman dan West (1975) dalam Matlin (1987) mendengarkan percakapan di kafe, toko obat, dan tempat umum lain di dekat sebuah universitas, mereka menemukan 96 % pria melakukan interupsi. Wanita tidak protes akan interupsi tersebut dan mereka justru diam setelah diinterupsi. Pada kesimpulannya, terdapat perbedaan antara pria dan wanita pada komposisi pembicaraannya. Jika dibandingkan dengan wanita, pria berbicara lebih banyak, menggunakan jeda, dan menginterupsi lebih banyak (Matlin, 1987).

Kualitas Suara

Jika disadari lebih dalam, saat berbicara pria bernada lebih rendah dari wanita. Banyak alasan yang membedakan pria dan wanita untuk menghasilkan nada tinggi atau rendah saat berbicara (LaFrance & Mayo, 1978 dan Sachs, 1975 dalam W. Matlin 1987). Perbedaan anatomi tubuh pada pria dan wanita bukan hal yang membedakan secara utuh tentang perbedaan nada bicara tersebut, ketika memasuki masa puber suara yang dikeluarkan pria dan wanita juga akan berbeda. Bahkan, mereka juga harus belajar mengeluarkan suara sewajarnya yang disesuiakan dengan jenis kelaminnya. Dalam suatu percakapan di telinga pria, suara orang-orang biasanya hanya terdiri dari tiga macam: rendah, sedang, dan tinggi. Namun, wanita mendengarkan suara dengan lebih rinci: air keran menetes, tangis bayi, anak kucing mengeong, dll (Kompasiana, 10-10-2011).

Nada suara bukan satu-satunya karakter yang membedakan suara pria dan wanita. Karakter lain yang sangat penting adalah intonasi (McConnel-Ginet, 1978 dalam W. Matlin 1987). Intonasi sangat berpengaruh dalam menyampaikan suatu informasi, sebuah kalimat biasa akan berbeda arti jika diucapkan dengan intonasi yang berbeda. Wanita lebih banyak menggunakan intonasi suara saat berbicara, sedangkan pria menggunakan intonasi yang konstan, McConnel-Ginet (1978) dalam Matlin (1987). Brends (1975) dalam Matlin (1987) menyatakan bahwa kepastian intonasi terlihat pada wanita, seperti sopan dan terlihat gembira.

Kata dan Frase

Wanita biasa menggunakan kata-kata deskriptif, seperti misalnya dalam menerangkan warna mereka sering menyebut keabu-abuan, biru lembayung muda, dan biru laut (Lakoff, 1973 dalam Matlin 1987). Sebenarnya tidak ada analisis statistik yang menunjukkan hubungan penggunaan bahasa dan perbedaan gender. Karakter dari orang yang berbicara dan di mana ia bicara mempengaruhi pengungkapan perbedaan gender (Matlin, 1987).

Haa’s (1979) dalam Matlin (1987) menyimpulkan bahwa wanita sering mengucapkan kata sifat daripada pria. Wanita akan lebih sopan ketika berbicara (Kemper, 1984 dalam Matlin 1987). Dan beberapa penelitian yang lain menyebutkan bahwa wanita berbicara dengan tata bahasa yang baik (Key, 1975; Thorne & Henley, 1975 dalam Matlin 1987). Di sisi lain, pria berbicara dengan logat dan kata-kata kotor. Hal ini sudah terlihat sejak awal-awal usia sekolah (Jay, 1980 dalam Matlin 1987).

Konten Percakapan

Hal apakah yang sering dibicarakan antara pria dan wanita ? Wanita biasanya membicarakan tentang perasaan orang lain, sedangkan pria membicarakan tentang objek (Barron 1971 dalam Matlin 1987). Guntar (2008) juga membedakan jenis pembicaraan wanita dan pria. Girls Like People, wanita cenderung mengatakan hal-hal yang berkaitan dengan perasaan seseorang seperti ia sedang suka dengan siapa, sedang marah dengan siapa dan saling berbagi rahasianya kepada orang lain. Sedangkan Boys Like Things, pria lebih senang membicarakan tentang benda dan bagaimana mekanisnya. Mereka sering membicarakan tentang teknologi, olahraga dan barang-barang bermesin. Tapi bukan berarti pria tidak pernah membicarakan orang lain. Tentu saja pernah, tapi ranahnya masih dalam konteks olahraga atau teknologi.

Alasan Pria dan Wanita Bicara

Jika wanita sedang memiliki kegalauan utama, ia akan terdorong untuk mengungkapkannya semua hal yang ada di otaknya, mereka cenderung curhat tentang apa yang dirasakannya dan meminta solusi kepada orang yang diajak bicara. Sedangkan pria berbicara karena ingin berbagi informasi, mencari penyelesaian masalah atau bahkan menunjukkan dominasi (Guntar, 2008)

Tempat Pria dan Wanita Bicara

Jika pria dan wanita memiliki perbedaan konten pembicaraan, mereka juga pasti memiliki preferensi yang berbeda. Pria lebih senang mengobrol di keramaian karena hal yang dibicarakan bukan suatu kerahasiaan. Sedangkan wanita lebih suka mengobrol di tempat sepi, karena hal-hal yang mereka bicarakan biasanya bersifat rahasia dan sensitif (Guntar, 2008)

Dari perbedaan-perbedaan di atas Allan dan Barbara Peaze, penulis buku “Why Men Don’t Listen & Women Can’t Read Maps”, menyatakan tentang gaya komunikasi wanita yang tidak disukai pria, antara lain karena wanita Berpikir sambil berbicara, Berbicara banyak hal dalam satu cerita, interupsi saat bicara (biasanya ia menginterupsi kapan saja), bicara berbelit-belit (saat ditanya suatu hal seringkali wanita menjawabnya dengan berbelit-belit, kebiasaan ini biasanya dilakukan saat terdesak atau untuk menutupi masalah), diam untuk menunjukkan rasa tidak suka (kosmo.vivanews.com 06-10-2011)

Setelah mengetahui perbedaan tentang cara bicara pria dan wanita, kini kita lebih bisa menentukan sikap ketika berbicara dengan pria atau wanita untuk menyesuaikan diri agar informasi yang diberikan dapat diterima dengan persepsi yang sama. Selain itu, kita juga akan lebih bisa memahami karakter pria dan wanita agar ketika berbicara dengan 2 makhluk yang berbeda ini tidak salah konteks pembicaraan dan pembicaraannya pun dapat berjalan dengan adanya timbal balik yang baik.

Daftar pustaka

Donelson, Frances Elaine (1999). Women’s Experience : A Psychology Perspesctive. California : Mayfield Publishing Company

Drabbs, Mary Eleanor, BS, MS, (1997). Experiences that shape women’s ideas about physical activity: A qualitative study. ProQuest Dissertations and Theses. (PQDT). Diakses pada 8 November 2011 pukul 12:02

Guntar, A (2008). Beda Pria dan Wanita dalam Berkomunikasi. Dari ahmadGuntar.com diakses pada 23 Desember 2011 pukul 19.27

Maltin, Margaret W (1987). The Psychology of Women. Winston

Suprawoto, NA. “Pembelajaran Berbicara.” Dari http://www.slideshare.net/NASuprawoto/pembelajaran-berbicara, diakses pada 16 November 2011 pukul 19:31

2011. Cara Asyik Ngobrol Pria-wanita. Dari kompasiana.com diakses 23 Desember 2011 pukul 19.30

2011. Kebiasaan Bicara Wanita yang Tak Disukai Pria. Dari kosmos.vivanews.com diakses pada 23 Desember 2011 pukul 19.29

Cerita tentang Hujan

Hujan, telah banyak menghamburkan harapan.
Dari para peladang sudut desa sampai pengojek payung pinggir kota.
Hujan, juga telah menggali emosi semua ingatan, membangkitkan angan serta luruh dalam syukur bahkan ribuan
Aku terpaku melihat butiran yang ikhlas jatuh dari peraduan, Kembali membekaskan kisah pengokoh masa depan.
Aku tertegun merasakan jatuhan, Kerlingan sejuk dahan hujan yang Tersedak saat tiba pada dermaga khayalan insan.
“Kau baik-baik saja ?”
“Alhamdulillah !”
“Nyamankah ?”
“Hhm, ternyata iya !”
“Kudoakan semoga lancar..”
“Terimakasih banyak”
“Nanti akan ku hubungi lagi”
Lagi-lagi, hujan datang membawa cerita. Cerita yang akan selalu bersatu dengan harmoni cinta.
Cinta yang kemudian menyatu menjadi bagian-bagian serunai perjalanan.
Hujan telah berkali-kali menahanku dalam ini keadaan.
Bergelut dengannya kembali menyulam langkah yang telah lama bungkam.
Menyembunyikan segala ratapan kerinduan di perantauan, meski hanya nyanyian musang yang kembali mengingatkan akan kampung halaman yang tak pernah suram dari merdunya Al-Qur’an.
Bahkan simphony cinta yang seringkali merayu pun tak kuasa untuk menahan, akan segala kisah hujan yang akan ku bawa pada gerbang kematian.
Tak berujung pada kelekatan iman aku dan bulan, bahkan cerita hujan selalu memaksaku untuk tetap tunduk pada perintah Tuhan, tak terkecuali dalam terpaksanya keadaan.
Cerita hujan kini berhasil menumpahkan segala harapan, dari membuang kisahku yang dulu suram dan kemudian menggantinya dengan sinar penuh harapan.
Kepada ibu bapak dan segala keterbatasan, atas nama diriku ku tepiskan juga bahwa kau adalah makhluk terindah setelah Rasulullah yang telah menghias kuncup hidupku dengan pelukan kasih sayang hingga ku menemukan Tuhan dalam kisah hujan pagi ini…

Coba Dengarlah

ku mohon..
alihkan dulu sejenak
pandangan dan rindumu
padaku, jelas !
sebentar saja dengarkan aku !

aku tak ingin kau sebut jadi sahabat
jika tak mampu tanganku menyentuh dasar nuranimu
jika tak mampu kau ingat ku dalam baris guraumu

sungguh..
coba dengarlah dulu
mungkin ini hanya kidung bagimu
tapi, ini tulus tertembus dalam serat doaku untukmu
dengarlah sahabat
pesan yang ku sampaikan dalam nafas kerinduanku padamu
dari jauh melalui serutan tambang nadi yang menjulur di dalam

janganlah kau tangisi lagi
biarkan sejenak dia pergi
toh juga cintamu masih di sini
tapi jangan kau sedikit ragu
bahkan kau sebut galau
karena cintamu jauh lebih dekat dari urat nadimu
Dialah yang memberikanmu cinta, rindu dan bahagia yang membahana
biarlah Diayang tumbuh dan memenuhi cintamu
saat ini dan nanti…

Aku harus bertanya kepada siapa ?


Aku harus bertanya kepada siapa ?
Kemana arus ini akan bermuara
Bukankah dulu kita pernah duduk bersama
Membicarakan cita-cita dan menggali semua yang kita punya

Aku harus bertanya kepada siapa ?
Bukankah dulu kamu yang mengajak berkoar
Tunggu sebentar !
Kau tak mungkin lupa
Kita pernah beradu di mega keemasan
Mengikrar diri dan menjadi saksi
Kisah syahdu awal perjalanan ini
Tentunya jalan yang kita pilih dan ingini

Aku harus bertanya kepada siapa ?
Akankah hulu mengantar ke hilir
Kalau jala saja tak tahu kemana anak ikannya terusir
Akankah kanvas dapat rapi terukir
Jika tak tahu kepada siapa ia ajak bepikir
Akankah anak kecil itu mengenal petir
Jika kami saja tak tahu arah harus kemana disetir

Sekali lagi,
Maka aku harus bertanya kepada siapa ?
Jika mau pun tak mampu bertanya...

Nasionalisme ? Hanya sekedar kata atau idealisme


Bergumam tentang nasionalisme ? adakah hubungannya dengan idealisme yang sering dipertentangkan banyak orang meskipun merupakan pandangan subjektif setiap individu ?. Selama ini yang banyak saya pahami tentang nasionalisme adalah bahasan tentang perjuangan manusia-manusia yang orang lain menyematkan gelar padanya sebagai seorang pahlawan. Orang-orang yang menyetir tubuh dan jiwanya untuk selalu berlaku pada kiblat bersatunya kebangsaan dan negara Indonesia, mereka yang menggiring kakinya mengikuti panggilan alam demi bersatunya manusia-manusia yang kemudian membentuk satu gugusan bangsa, Indonesia. Terlepas dari pengalaman para pahlawan yang merelakan jiwa raganya mengusung  putusnya nadi hingga ujung nasib yang memotongnya, para pahlawan sudah pasti menyematkan kata bercetak tebal dan berkapital NASIONALISME lekat erat di dalam dadanya bahkan telah menyebar di segala penjuru urat-uratnya. Kemudian kata nasionalisme biasanya juga sangat fasih diucapkan oleh teman-teman kita yang tergabung dalam pasukan pengibar bendera pusaka (Paskibraka). Mengapa ? Ya setidaknya mereka mungkin telah memiliki integritas dan menerapkan nilai-nilai yang dimiliki Indonesia. Menurut saya mereka juga memiliki keterikatan dengan bangsa ini, hal ini sangat terlihat dalam pola interaksi mereka yaitu mereka sangat menghargai komponen-komponen pemersatu bangsa.
Lalu bagaimana dengan kita ? tepatnya saya yang notabene bukanlah seorang anggota paskibraka  atau bahkan pahlawan. Tentu bukan berarti saya tidak memiliki rasa nasionalisme, bukan ? Otto Bauer (Jerman, 1882–1939) menyatakan bahwa nasionalisme dilatarbelakangi karena adanya sebuah sejarah dan cita-cita bersama yang mempersatukan rakyat di dalamnya, mereka bertekad untuk membangun masa depan bangsa yang diikat dengan tanah air yang satu. Friedrich Hertz menyimpulkan tentang komponen penting bagi terbentuknya nasionalisme dalam bukunya Natiolity in History and Politics yang terdiri dari 4 aspek aspiratif yaitu keinginan untuk mencapai kesatuan nasional, kebebasan nasional yang sepenuhnya dan tidak ada campur tangan negara lain, keinginan dalam kemandirian dan     kekhasan, serta keinginan memiliki keunggulan di antara bangsa lain dalam meraih kehormatan atau prestise.
Rasanya memang ada benarnya jika kebanyakan orang mengatakan bahwa nasionalisme adalah sikap cinta tanah air yang bisa digambarkan dengan memakai produk Indonesia, atau menyangsikan penggunaan bahasa asing melebihi bahasa Indonesia, namun dalam menanggapi nasionalisme ini saya memiliki sebuah definisi sendiri tentang nasionalisme. Bagi saya nasionalisme adalah sebuah tanggungjawab, tanggungjawab yang senantiasa disematkan dalam dada. Sebuah rasa yang tidak hanya bisa diucapkan dengan kata karena ia tak hanya butuh didengar namun ia dibuktikan dengan tanggungjawab yang nyata. Nasionalisme bukanlah perasaan yang ada karena sengaja diadakan oleh individu, bukan pula dikondisikan karena ada sesuatu. Maksudnya, nasionalisme ada bersamaan dengan aliran darah kita, tidak timbul karena hal yang memaksa kita untuk berjiwa nasionalisme. Jika seorang anggota paskibraka memiliki rasa nasionalisme, rasa itu seharusnya tidak timbul setelah berbagai latihan dan tempaan yang membangun nasionalisme lebih kuat, rasa nasionalisme tumbuh dari dalam diri terlebih dahulu kemudian diaktualisasikan dalam bentuk menjadi anggota paskibraka agar dapat mengimplementasikan nasionalisme itu sendiri secara sadar dan nyata.
Nasionalisme bagi saya juga memiliki fungsi mempersatukan, mempersatukan kesamaan ide dan gagasan dalam membangun masa depan bangsa, mempersatukan kesiapan jiwa dalam mengolah tindakan demi terbentuknya identitas bangsa yang bermartabat. Sebagai seorang mahasiswa sudah sepatutnya nasionalisme ini dijadikan idealisme diri dan tuntutan internal diri sendiri untuk mencapai kesatuan tujuan yang dimimpi-mimpikan bangsa ini, yaitu karakter bangsa yang lagi-lagi mempersatukan kita. Lalu bagaimana dengan implementasiannya ? dengan kapasitas sebagai seorang mahasiswa nasionalisme yang kita miliki hendaknya dapat disebarluaskan dengan cara-cara mahasiswa, memberikan inspirasi kepada orang lain MINIMAL dengan penampilan kita yang ‘Indonesia’, kesopanan kita yang ‘Indonesia’ dan hal yang lebih jauh lagi dengan mempersatukan diri kita sendiri dengan masyarakat melalui gagasan-gagasan yang kita sampaikan melalui tulisan sebagai aktualisasi diri kita sebagai seorang akademisi.
            Saya rasa nasionalisme dapat diaplikasikan sebagaimana kita beragama, di manapun kita berada keteguhannya menyita semua perkataan, perbuatan dan karakter diri kita. Selanjutnya berkolaborasilah kita dalam satu cita-cita yang menuntun langkah maju bersama, berpadu dalam indahnya ukhuwah kebangsaan yang membawa nilai kemashlahatan bagi masyarakat dalam memahami sejatinya persatuan. Menjadi satu Indonesia adalah sebuah janji. Mari jadikan diri ini bukan menjadi orang yang hanya minimal tahu arti kata nasionalisme kemudian diam dan menanam dalam hati saja tanpa berusaha mengolah dan memanennya kelak, jadikan nasionalisme menjadi suatu idealis berpikir agar kiprah karya kita nantinya tak hanya dikenal sebatas nama namun juga bangsa Indonesia yang ikut memilikinya.

Daftar pustaka

Suciati Zen Nur Hidayati, Fakultas Psikologi
Peserta UI-Student Development Program 2012