Bismillahirrohmaanirrohiim..
Sekedar mencoba kembali mengajak jari-jari menari, mengukir dan merangkum segala emosi yang terjadi akhir-akhir ini.
Yaahh.. daripada dicibir sendiri, lebih baik untuk introspeksi diri ^^
Allah memang sutradara kehidupan yang memiliki predikat tertinggi, kebijaksanaanNya menutupi reruntuhan ragu manusia yang dituliskan ceritanya.
bukan lagi untuk menolak tapi mengejar nafas dan menelan sisa udara untuk mendinginkan diri, berdamai dengan hati tegas mengakui bahwa Dia saja yang patut dikagumi.
Awal Ramadhan tahun ini terasa lengang, aktivitas serasa biasa saja karena libur juga mengena cukup panjang, bingung mencari kesibukan apa ?? mencari inspirasi menulis apa ?? mencari tempat untuk dikunjungi ke mana ??
Alhamdulillah, panggilan berteman kembali dengan anak-anak di sebuah masjid kecil komplek elite kota Depok sedikit menyulam rindu dan semangat baru.
teringat pada tahun-tahun lalu, mungkin dalam keadaan hampir sama. Berbagi, karena tak ada yang ku punya maka ku hanya bisa berbagi Cinta..
tapi kali ini dengan orang yang berbeda, baik rekan maupun mereka. namun tak mengapa, karena komponennya masih akan tetap sama.
Dakwah dengan cinta..
serasa indah, penuh dengan kemesraan dan kisah hikmah.
melihat senyumnya adalah bahagia, mendengar teriakannya adalah kesabaran dan ikut merasakan rengekannya ingin menang dalam lomba menggambar adalah geli kemakluman.
semuanya menyumbangkan rentetan kisah yang indah dipelihara dalam doa.
dan untuk kedua kalinya,
di pertengahan Ramadhan menjelang pulang ke kampung halaman..
satu lagi cinta ang sejak lama dirajut dengan sabar, teguh dan pantang runtuh.
satu agenda yang benar-benar dipersiapkan untuk satu momen kebersamaan di satu tempat melegenda, Asrama Mahasiswa UI Depok..
semua umpatan berubah menjadi cinta, kasih dan aroma kekeluargaan melegenda dan berbunga.
meskipun satu kejadian sebelumnya cukup membuatku terguncang, tapi ya sudahlah.. biar aku yang merasakan dan menanggung dosa. yang jelas cinta keluarga ini tersampai tanpa nista..
memang, setiap momen Ramadhan tak akan pernah berlalu dengan sia-sia seperti juga skenario Allah yang Dia ciptakan dengan sepenuh cinta pula, hingga kini ronanya menyatu dalam urat jiwa, mengikat di setiap doa.
jadi, ini inspirasinya Mau Nulis Apa?
Minggu, 12 Agustus 2012
Sabtu, 21 Juli 2012
Muhasabah Ramadhan *Merindukan Militan*
Teduh, melihat parasnya yang senantiasa tergambar beriak
air wudlu.. berseri, lembut senyumnya sekian menyapa semua orang yang terlalui,
walau kini ku kenal mereka penuh rasa perih, pedih, ringkih jika tidak iman
yang menguatkannya. Hanya kata-kata nama Allah yang keluar dari bibirnya, hanya
setiap tengah gelap waktunya menyandar sekedar bercerita tentang perihnya,
hanya kepada hati ia berani menyadur diri sendiri. Bukan kepada manusia lain ia
berpesan kesahnya, tapi kepada yang lain ia sumbang senyum bahagia saudaranya. Meski
tak dimengerti, mungkin tubuhnya kini sedang dikejar mati. Hanya itu yang
membuat ia bergerak dan tetap tegak. Dan orang lain hanya melihat..
Hanya yang membuatku benar-benar malu, malu karena
melihatnya saja aku tengkurap rindu... rindu.. rindu akan kemilitan yang kini
kian pudar, entah pudar ditelan zaman atau pudar ditelan keangkuhan dan
keegoisan ?
Namun mereka, hadir. Hadir memperkenalkan diri sebagai pejuang,
mengusung asas kemilitansian.. dengan bukti, lihatlah mereka selalu datang di
saat semuanya masih tengkulap kekenyangan, bisa jadi mereka datang justru
karena lapar, lapar meneguk pahala yang ranum, bagi mereka. Bukan karena alasan
prestige ia hadir, bukan pula riuh tepuk tangan mengusung angkuh, apalagi
pamrih yang membuatnya merasa lebih. Mereka tak datang karena dipanggil, mereka
datang karena terpanggil.
Masihkah ia menunggu ?? Jika ia sendiri tahu siapa yang
perlu dibantu. Sadar, tak peduli dirinya butuh bantuan tapi yang ditanya siapa saudaranya
butuh bantuan ? tak pernah ditanya tentang hidupnya, lewat.. tapi yang selalu
ditanya bagaimana perkembangan saudaranya. Subhanallah.. bukan karena ingin
terkesan ia belajar pandai. Bahkan bukan karena tuntutan ia memindai, sendiri. Ke
dalam diri. Ia leading diri sendiri,
kemudian mencerah di sekitar garis merah.
Tegas, tak memihak budi pribadi namun objektif melihat
nurani. Mereka tak sibuk mengurus diri sendiri, umat yang mereka cintai namun
tak melupakan kewajiban tunjuk Illahi. Mereka mengkaji dan kemudian berbagi,
bukan menafsiri semua dan berprasangka sendiri. Mereka belajar kemudian memahami, bukan mengejar kemudian
mengamini. Mereka beramal untuk mengabdi, bukan menjegal kemudian memenangkan
diri. Mereka lupa kata lelah apalagi mengalah. Sampai pendar matahari ia bilang
anugerah, guntur gemuruh ia bilang berkah. Semua indah di mata pejuang.
Mutlak ia menang. Tak ada luput dari pandangan, tak ada
lepas dari ingatan, tak ada lewat dari perhatian. Kewajiban seakan jadi mainan,
karena bahagia mengusung setiap langkah kakinya, bukan keluh banyak amanah di
pundaknya. Terlena akan doa adalah dosa, tangannya menjaring tepat makna..
kepada keluarga, tetangga, buku dan saku tak ada beda, perhatiannya sama
besarnya. Karena cinta yang ada dalam hatinya, menjaring makna di setiap derap
kakinya. Apapun alasannya, semua berlandas cinta pada Rabbnya.
Militansi akan segera kembali, jika ego segera berdamai
dengan hati, bersinergi dengan kaki. Jadilah ia pejuang sejati, menjual jiwa
raga dengan ikhlas. Menjadi manusia langit yang takkan lepas kendali. Berjamaah
mencari ikatan hati dan bergerak dengan riang hati. Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min, diri dan
harta mereka dengan memberikan syurga untuk mereka (At-Taubah : 11)
Dan sekarang bukan lagi merenungi usia yang telah semakin
tua, meski telah kalah dengan Muhammad Al-Fatih yang mampu bertandang memberi
bukti kesungguhan amalnya. Mari kita teladani beliau, pantaskan diri menjadi
seorang yang memang pantas dikenang sejarah bukan sebatas tertulis tinta namun
melekat dalam lubuk hati, sampai nanti sampai mati. Karena bukan ditanya telah
jadi apa kau kemarin, tapi telah kau lakukan apa, nanti.. nanti dalam
perhitungan keadilan Tuhan. Tapi sekarang, mari muhasabah dan bangun diri
kembali. Ia telah lelah mengalah dan saatnya tiba masa berbuah.
Momen Ramadhan ini kawan, yuk manfaatkan dengan seksama bijaksana.
Tak Cuma meningkatkan kualitas diri dan mari aktualisasikan diri, tak hanya
pada diri pribadi dan tiliklah mereka yang menanti. Mari aktif memberi dan tak
hanya pasif diberi. Happy Ramadhan J
Suciati Zen Nur Hidayati
Asrama UI Depok, 21 Juli 2012 23:40
Selasa, 05 Juni 2012
Menggadaikan Cita-cita
Bangun dari mimpi saja susah
Apalagi jika dipaksa menatap matahari dengan seksama
Warna jingga jadi biru tua
Masih pagi sudah bikin pusing kepala
Berkata apa mereka, silakan !
Bilang otakku berantakan
Atau menjalang di persimpangan
Yang jelas khusyu’ doa masih tertanam
Walau mulut mencabik muka
Sok berkuasa menyimak kecewa tak ada artinya
Biarlah..
Mimpi bangun sesuai aliran muaranya
Bahkan hatimu sombong bilang kalau tak mengumpat cerita
Allah tahu siapa yang punya nama
Mengikrar menjual tangan dan kakinya
Hingga tak sempat gadaikan cita-cita
Jumat, 18 Mei 2012
Mari Bersekutu dan Berfastabiqul Khairat
Penelusuran mencari berita pagi hari ini terpaksa ku hentikan saat
kutemukan satu artikel yang berjudul “Potong Rambut Gratis Kaum Gay Diserbu
Pengunjung”.
Wow !
fantastic sekali !
saya spontan berpikir, tanpa ditodong bagaimanakah nanti jadinya karakter
bangsa yang beradab ini ?
Kelompok yang menamai dirinya Igama
(Ikatan Gaya Nusantara) ini melakukan aksi besar-besaran dengan potong rambut
gratis di Malang, potong rambut di sini dimaksudkan dengan gaya yang sedang
trend sekarang karena sebagian besar dari mereka berprofesi sebagai tata rias. Selain
itu mereka juga memberikan jajanan kepada para pengunjungnya untuk mencari
dukungan dari masyarakat atas keberadaan mereka. Kelompok ini mengklaim jumlah
anggotanya di Indonesia sebanyak 3000 orang. Dan saya pikir ini adalah strategi
mereka untuk memperluas dukungan dan penerimaan masyarakat terhadap dirinya. Masyarakat
dibuat terbiasa dengan hal-hal yang awalnya dianggap tabu dan melanggar norma.
Masyarakat dibuat begitu senang dengan sedikit sogokan materi yang tak
seberapa, namun tahukah imbasnya ? kaum gay ini akan merajalela
menggaung-gaungkan tuntutan akan kebebasannya. Berdalih untuk memperingati
International Day Against Homophobia and Transphobia (IDAHOT) tepat 17 Mei
kemarin, homophobia dan transphobia merupakan bentuk kebencian terhadap gay,
transgender.
Namun, bukan perkara ini yang saya fokuskan ! Kejadian ini sudah seharusnya
menjadi sebuah refleksi bagi kita, bukan lagi mempersalahkan dan memperdebatkan
sikap yang diambil ikatan gay itu, sedangkan kita manusia yang ‘normal’ tetap
tidak melakukan apa-apa. Sama saja ! lebih baik diam dan sok-sok tidak tahu.
Karena itu kebebasan mereka untuk melakukan aksi tersebut. Marilah kita tilik
dan renungi kembali. Jika kaum gay yang dipandang sangsi oleh masyarakat saja bisa
bersekutu menjadi satu dapat melakukan sesuatu hal yang ‘dianggap’ baik dan
bermanfaat oleh masyarakat, sedikit mempengaruhi paradigma masyarakat tentang
mereka dan bahkan benyak memberikan simpati kepada mereka. Sudah sepantasnya
kita sebagai manusia ‘normal’ yang memiliki kewajiban menjaga dan membudayakan
peradaban bangsa Indonesia ini juga bersatu dalam barisan yang rapi,
menyelamatkan identitas bangsa ini, Indonesia yang bermartabat. Bersegera dalam
berbuat kebaikan, berfastabiqul khairat dan ber amar ma’ruf nahi munkar mulai
dari lingkungan kita sendiri.
Seperti apapun kejahilan yang bersekutu akan dapat mengalahkan kebaikan semulia
gunung emas yang berkilau di ujung pandang lautan yang hanya dikerjakan satu
raga. Begitu juga sebaliknya, kebaikan yang bersekutu juga akan menang jika
jiwa dan raga yang berdiri serta berlari bersekutu menjadi satu menyuarakan
satu maksud yang membahana membawa semangat perbaikan. Semangat bergerak !
Sabtu, 12 Mei 2012
Semangat Kami Bertemu Dalam Bingkai Ukhuwah
Awalnya kami tak sengaja dipertemukan dalam sebuah forum
yang bagi saya, Asing ! Tak ku kenal siapa-siapa namanya bahkan bahasa apa yang
setiap hari disuarakannya untuk berbicara. Memandang wajahnya pun aku tak
mampu, hhhmm.. bukan tak mampu tepatnya, namun aku sendiri merasa belum siap
berhadapan dengan orang-orang yang terlihat luar biasa ini. Kami terdiri dari
sosok yang dari segi manapun berbeda, latar belakang, asal daerah, bahasa, budaya,
cara bicara, isi kepala bahkan isi kantong kita pun berbeda. Ada satu hal yang
kemudian mempertemukan dan menamai kami dengan kata Mer.C (Mentoring Center)
Sahabat Asrama, berat rasanya menyandang amanah itu, ngeri rasanya mengeja, namun
kami justru senantiasa berusaha mempersatukan hati demi perbedaan yang sekian
banyak manjadi suatu ikatan yang membawa langkah kami memenuhi amanah, ibadah
dan dakwah yang dipinang hanya dengan sebuah makna ukhuwah.
Bukan berawal dari sebuah pertemuan di tepi danau yang
tempias cahayanya terkilas dari jendela-jendela lusuh pojok asrama UI ini. Bukan
sama sekali ! Pertemuan pada Jumat, 11 Mei 2012 itu bukan awalan. Tapi itu
merupakan hasil rajutan cita-cita yang berdamai membentuk satu cinta perjuangan
tangan-tangan yang tak mau tinggal diam saat peradaban jauh tertinggal ditelan
zaman dan lenyap dari sebuah kata militan. Pertemuan menjelang senja kala itu
kembali menumbuhkan bibit rona semangat yang belakangan tak tersentuh oleh
lembutnya sapaan. Sapaan yang kemudian memberikan kabar bahwa sosok-sosok kami
adalah bayangan nyata yang berjalan di atas bumi dengan segala kesibukan dan
harapan akan berlangsungnya kemajuan peradaban agama yang mulia ini. Satu,
sibuk dengan segala macam advokasi kampus yang harus beradu dengan amanah
akhirat. Dua, sibuk dengan segala kegiatan akademisi yang juga harus bergelut
dalam kategori da’i. Tiga, empat, lima dan seterusnya yang mungkin akan
bergulat di sana dan tetap membangun satu rangkaian cita-cita kita.
Ditemani kilauan beriak danau yang dihiasi mozaik mentari
yang hendak bertandang ke peraduannya kami semakin yakin akan kekuatan makna
ukhuwah yang akan menguatkan tekad dan tujuan berasaskan tuntunan Illahi yang
akan senantiasa kami jaga dan kami perjuangkan.
Semoga kita menjadi manusia-manusia langit J
Orang-orang yang terhubung ke langit, adalah orang-orang yang menanggung
beban untuk membawa manusia ke jalan cahaya. Mereka menjadi manusia-manusia
dengan ketahanan menakjubkan menghadapi menghadapi kebengalan sesama titah. Mereka
menjadi orang-orang yang paling teguh hati, paling lapang dada, paling sabar,
paling lembut, paling santun, paling ramah, dan paling ringan tangan. Keterhubungan
dengan langit itu yang mempertahankan mereka di ats garis edar kebajikan,
sebagai bukti bahwa merekalah wakil sah dari kebenaran (Dalam Dekapan Ukhuwah : 71)
InsyaAllah kita tidak akan salah pilih sahabat,
menggadaikan jiwa-jiwa kita demi menumbuhkan kecintaan kita kepada Allah. Bahkan
menyibukkan diri dan ikut dalam organisasi di asrama sebagai tempat tinggal
kita adalah sebuah pilihan yang sangat ideal, ia akan banyak memberikan manfaat
dalam proses sosialisasi kita disamping kesibukan kegiatan fakultas yang selalu
kita bawa kemana-mana. Idealnya ikutilah satu organisasi di asrama dan satu di
fakultas untuk menyeimbangkan kita sendiri, karena sekali lagi ia akan banyak
sekali memberikan manfaat kedepannya. Jika lebih dari itu dikhawatirkan akan
mengganggu kegiatan akademis kita sendiri, begitulah salah satu pesan bang
Sani, mentor UISDP saya yang dulunya juga seorang aktivis Sahabat Asrama.
#Berkelas (Bekerja Ikhlas)
Jumat, 04 Mei 2012
Aku Ingin Menulis
Aku ingin melukis..
Aku ingin menangis..
Mengabarkan pada mereka yang bengis
Dan tak pernah simpulkan senyum yang manis
Lalu aku menulis..
Kisahku tak banyak yang tahu
Mungkin, hanya akar dahan yang sejak dulu membantu
Bahkan, daun yang gugur pun tertitah dan berlalu
Padahal aku berdiri tepat ia menggerutu
Praktis, aku lantas menulis..
Tak pantas bersembunyi
Jika malam saja menari dan mewangi
Tak lantas berarti hanya berdiam diri
Jika Dia saja menyambut dengan berlari
Maka di ujung tapis aku menulis..
Aku ingin menulis..
Sejenak apapun mimpi mengungkit
Aku ingin menangis..
Selemah apapun dari berdiri untuk bangkit
Aku ingin melukis..
Sejauh apapun tali sulit berkait
Membingkai kisah yang tak akan bisa berkelit
Jika telah rampung dalam bait,
Maka, tahukah engkau
Mengapa kini aku ingin menulis ?
Suciati Zen Nur Hidayati, Fakultas Psikologi
Peserta UI- Student Development Program
Suciati Zen Nur Hidayati, Fakultas Psikologi
Peserta UI- Student Development Program
14-03-2012
20:50
Asrama mahasiswa UI
Kata orang
itu ukhuwah..
Yang tulus
dikata megah lagi indah
Tapi, Yang
nyata disaksi itu tak mudah
Dalam
membalut setiap kisah
Bertajuk
lingkup ibadah dan dakwah
Kata orang
itu ukhuwah..
Yang
berkumpul dalam padang kehangatan
Menghambur
dalam ikhlasnya pandangan
Dan
menyambut dalam rindu dekapan
Kata orang
itu ukhuwah..
Yang
bersadur dalam kolaborasi ibadah
Yang
menyediakan bahu saat diserang amanah
Yang
menggoncang kaki tetap istiqomah
Bukan malah
hengkang dari dakwah
Kata orang
itu ukhuwah..
Merasa sakit
yang membukit
Di kala ada
saling membelit
Bahkan, tak
kuasa tuk mengungkit
Karena
menyatu dan terkait
Serta
terangkum dalam doa berbait
Maka itulah
ukhuwah..
Yang
senantiasa bersanding dalam jalan lillah
Suciati Zen Nur Hidayati, Fakultas Psikologi
Peserta UI- Student Development Program 2012
Langganan:
Postingan (Atom)