Label

Jumat, 04 Mei 2012



Kata orang itu ukhuwah..
Yang tulus dikata megah lagi indah
Tapi, Yang nyata disaksi itu tak mudah
Dalam membalut setiap kisah
Bertajuk lingkup ibadah dan dakwah

Kata orang itu ukhuwah..
Yang berkumpul dalam padang kehangatan
Menghambur dalam ikhlasnya pandangan
Dan menyambut dalam rindu dekapan

Kata orang itu ukhuwah..
Yang bersadur dalam kolaborasi ibadah
Yang menyediakan bahu saat diserang amanah
Yang menggoncang kaki tetap istiqomah
Bukan malah hengkang dari dakwah

Kata orang itu ukhuwah..
Merasa sakit yang membukit
Di kala ada saling membelit
Bahkan, tak kuasa tuk mengungkit
Karena menyatu dan terkait
Serta terangkum dalam doa berbait

Maka itulah ukhuwah..
Yang senantiasa bersanding dalam jalan lillah


Suciati Zen Nur Hidayati, Fakultas Psikologi
Peserta UI- Student Development Program 2012

Sisi Lain Ibu Bapak yang Kini Kurindukan

Setelah menyelesaikan sholat Isya’ beberapa hari lalu, ponsel saya berdering dan tertulis ada panggilan dari teman dekat saya. Seketika saya mengangkat ponsel dengan penuh antusias, sejenak suara hening dari seberang. Beberapa detik kemudian saya mendengar suara isak tangis dari sambungan ponsel, dan saya baru menyadari bahwa suara tersebut menggambarkan rasa rindu yang mendalam. Dalam pembicaraan singkat malam itu dia banyak bercerita tentang kenangan kami dahulu dan membicarakan tentang kerinduannya kepada saya ketika ia bertemu dengan ibu saya.

Teman saya bercerita tentang isi hati ibu saya yang sesungguhnya. Sebelum saya diterima menjadi mahasiswi Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, saya sering menceritakan Fakultas Psikologi UI sebagai tempat tujuan belajar selanjutnya setelah lulus SMA kepada ibu. Ibu saya tidak merespon dengan baik apa yang sering saya bicarakan kepada beliau, beliau lebih sering hanya berkata “ooo…” dengan ekspresi datar dan menyarankan untuk melanjutkan kuliah di daerah saja. Ketika itu saya mengasumsikan bahwa ibu tidak menyetujui saya untuk kuliah di UI tanpa mengetahui alasan sebenarnya.

Dalam sebuah pembicaraan di telepon dengan teman saya, dia menceritakan bahwa ketika berkunjung ke rumah saya dan bertemu dengan ibu, ibu saya mengungkapkan bahwa ketika melihat dia beliau selalu ingat kepada saya. Karena hubungan pertemanan kami memang sangat erat, kami sering pergi ke masjid besar kota Kediri hingga malam hanya untuk saling berbagi cerita dan mengingat cita-cita. Dalam pertemuan itu ibu juga mengungkapkan alasan tentang responnya yang datar saat saya bercerita tentang UI. Ibu mengatakan bahwa beliau merasa tidak enak hati dan takut ketika saya memasang background gambar UI di layar desktop saya, beliau khawatir jika saya tidak mampu mencapainya saya akan stress. Beliau takut saya tidak bisa bangkit dan semakin terpuruk. Alhamdulillah, kekhawatiran beliau tidak terjadi. Kini saya sadar bahwa anggapan bahwa ibu tidak mendukung apa yang saya impikan terbukti tidak benar, justru beliau berpikir jauh ke depan untuk mengantisipasi kondisi psikis saya. Ibu telah jauh memikirkan tentang segala kemungkinan yang bisa terjadi tanpa saya sadari. Dahulu saya hanya beranggapan bahwa ibu terlalu primitif dan menyarankan saya untuk menjalani kehidupan biasa-biasa saja layaknya orang-orang di sekitar, sekolah di daerah kemudian menjadi PNS dan itu sudah cukup bagi seorang wanita.

Setelah saya mengetahui cerita di atas, sikap saya kepada ibu berubah. Sebelumnya saya hanya menanggapi biasa saja perhatian ibu terhadap saya, namun sekarang justru saya yang memiliki kebutuhan untuk memperhatikannya. Saya selalu memberikan kabar kepadanya, padahal sebelumnya seringkali saya tidak memberikan kabar tentang apa yang telah terjadi pada diri saya. Sekarang rasanya perhatian ibu merupakan hal yang sangat berarti. Begitupun dengan bapak saya, sebelumnya ketika di rumah saya mengenal bapak sebagai sosok yang dingin dan cuek terhadap lingkungan. Hal ini sering membuat saya bosan berada di rumah. Kini setelah saya benar-benar keluar dari rumah, saya merasakan perhatiannya dengan mendalam. Beliau selalu berusaha untuk sesegera mungkin memenuhi apa yang saya butuhkan, bahkan sebelum saya mengatakannya. Rasa khawatir yang kini ditunjukkannya tidak saya rasakan ketika dirumah. Entah karena keegoisan pribadi saya atau karena kini saya merasa butuh akan perhatian orangtua sehingga saya baru merasakannya. Saya mengenal beliau dalam bingkai sifat yang dingin, namun kini saya mengenal beliau dengan melihat sisinya yang sangat lembut sebagai seorang ayah.

Jarak yang memisahkan kami memacu saya untuk memberikan usaha yang terbaik untuk mereka, saya menyadari bahwa setiap hembus nafas yang bisa saya hirup pasti ada doa-doa mereka yang menyertai, ada air mata ketulusan di setiap malam-malam dalam sujudnya untuk mendoakan saya di sini. Saya harus berjuang untuk membalas usaha-usaha mereka untuk mengantarkan saya sampai pada kehidupan sekarang dan masa mendatang yang lebih baik.


Suciati Zen Nur Hidayati, Fakultas Psikologi

Peserta UI- Student Development Program 2012

Menjadi yang Terbaik atau Melakukan yang Terbaik ?

Menjalani proses terbaik atau mendapatkan hasil terbaik ? Tanpa pikir panjang kebanyakan orang akan berorientasi pada hasil yang terbaik. Di era serba globalisasi seperti sekarang ini, persaingan terjadi di berbagai sektor baik di bidang akademik, ekonomi, sosial dan politik. Tersedianya berbagai fasilitas yang sangat memudahkan akses informasi menyebabkan orang semakin mengandalkan teknologi dan malas berusaha dengan tangannya sendiri untuk meraih apa yang diinginkan.

Segala kemudahan yang kini bisa dinikmati masyarakat menyebabkan persaingan akademik juga kian ketat. Saya merasa ada hal yang aneh ketika melihat seorang teman yang bisa dibilang pandai daripada teman lain tetapi dia melakukan cara-cara tidak etis untuk memperoleh predikat lebih dari apa yang telah didapatkan. Misalnya dalam masa-masa menjelang Ujian Nasional banyak siswa menyusun strategi untuk mendapatkan nilai terbaik, entah dengan bekerjasama dengan teman saat ujian, mencari bocoran soal dan ada juga yang berusaha maksimal dengan belajar giat dan berdoa. Sebagian siswa yang serius bersekolah tentu akan belajar dan berdoa secara maksimal untuk mendapatkan hasil terbaik dari proses belajar terbaik pula yang dilakukannya. Namun sebagian siswa berdalih melakukan cara-cara tidak etis dengan alasan untuk membahagiakan orangtua dengan memberikan nilai yang baik. Menurut saya, melakukan usaha terbaik dengan bekal keyakinan yang penuh justru akan membawa langkah saya dalam mencapai hasil yang terbaik.

Sebuah proses belajar sekuat tenaga dengan hanya bergantung pada kemampuan diri sendiri dan Tuhan itulah sumber kekuatan saya, dengan itu saya memiliki tanggungjawab terhadap apa yang saya lakukan. Saya berorientasi untuk mendapatkan hasil terbaik dengan bercermin pada usaha saya, jika saya telah memberikan usaha terbaik maka hasil apapun yang telah dipilihkan Tuhan akan bisa saya terima dengan ikhlas. Sejak SMA saya telah menanamkan dalam hati bahwa untuk memperoleh hasil yang terbaik saya harus memberikan usaha terbaik yang bisa dilakukan. Jika saya telah berusaha melakukan usaha semaksimal mungkin namun hasil yang diperoleh tidak seperti harapan, saya akan selalu merefleksikan dalam diri dan meyakini bahwa hasil yang telah saya dapatkan adalah sesuai dengan usaha yang saya lakukan. Dengan demikian, saya merasa lebih tenang. Walaupun secara tidak langsung saya juga berorientasi pada hasil namun saya sangat menghargai usaha yang telah saya lakukan. Maka dengan hal tersebut perlahan-lahan saya menyadari dari hasil tersebut saya memahami hal yang harus saya perbaiki.

Seorang motivator pernah berkata bahwasanya jika seseorang melakukan cara-cara curang, maka balasan akan tetap mengikutinya. Bisa jadi ia akan lulus ujian dengan nilai terbaik, tapi belum tentu ia dapat melanjutkan kuliah di universitas terbaik. Jika ia dapat kuliah di universitas terbaik, belum tentu ia akan mendapatkan tempat kerja terbaik. Jika ia mendapat tempat kerja terbaik bisa jadi ia akan mengalami banyak masalah disana. Disadari atau tidak segala sesuatu yang telah dilakukan seseorang akan ada timbal balik yang sama kepadanya. Melakukan usaha terbaik akan mengarahkan langkah kita untuk meraih hasil yang terbaik pula.

Seseorang yang memiliki fokus pada tujuan akhir dan memiliki manajemen diri yang baik akan memulai setiap perjalanan hidupnya dengan cara yang baik pula. Setiap usaha terbaik yang dilakukan individu akan mengarahkannya untuk tetap berfokus pada benang merah tujuan utamanya. Jika niat seseorang sudah baik, mampu mengatur diri, maka hasil terbaik akan mengikutinya. Sebuah hasil usaha yang dicapai memberikan sebuah pelajaran kepada individu tersebut untuk selalu meningkatkan kualitas dirinya.

Suciati Zen Nur Hidayati, Fakultas Psikologi
Peserta UI- Student Development Program 2012

Cara Bicara Pria dan Wanita : Apa Bedanya ?

Hal apakah yang paling sering Anda amati ketika melihat 2 orang pria dan wanita sedang bersama ? Bagi saya, hal menarik untuk diamati ketika melihat 2 orang pria dan wanita sedang bersama adalah bagaimana cara mereka berbicara atau berkomunikasi. Gaya bahasa berkaitan pada perilaku seseorang (Strauss, 1959), dan Buchanan (1992) menyatakan bahwa tingkah laku seseorang dipengaruhi oleh bahasa, bahasa digunakan untuk meneliti aktivitas fisik. Satu hal menarik jika diamati, dengan adanya perbedaan cara komunikasi verbal antara wanita dan pria dapat menimbulkan persepsi yang terkadang berbeda perlu diketahui agar tidak terjadi kesalahpahaman antara gaya bahasa dan cara penyampaiannya pada maksud yang dikehendaki.

Berbicara adalah beromong, bercakap, berbahasa, mengutarakan isi pikiran, melisankan sesuatu yang dimaksudkan (KBBI, 2005:165). Menurut Tarigan (1983:15) berbicara adalah kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekspresikan, menyatakan serta menyampaikan pikiran, gagasan dan perasaan. Berbicara merupakan suatu sistem tanda-tanda yang dapat didengar (audible) dan kelihatan (visible) yang memanfaatkan sejumlah otot dan jaringan tubuh manusia demi maksud dan tujuan gagasan-gagasan atau ide yang dikombinasikan. Djago Tarigan dkk (1998:34), menjelaskan bahwa berbicara adalah keterampilan menyampaikan pesan melalui bahasa lisan. Pengertian di atas telah menjelaskan bahwa berbicara merupakan kegiatan fisik manusia untuk mengungkapkan tujuannya, jika pengungkapan ekspresi yang dikeluarkan seseorang berbeda maka akan menimbulkan pemahaman maksud yang berbeda pula. Terutama komunikasi verbal/berbicara yang terjadi antara pria dan wanita yang memiliki kondisi psikologis yang berbeda.

Pada dasarnya cara berbicara antara wanita dan pria berbeda, Kramer (1977) dan Tannen (1990) dalam (Frances Elaine Donelson, 1999) menyatakan stereotip bahwa wanita terus menerus berbicara, namun pada kenyataannya pria lebih banyak berbicara daripada wanita secara natural, pada kelompok lain jenis, dan bahkan ketika berbicara di sebuah alat perekam. Secara umum, pria menunjukkan dominansi dan statusnya dengan mengontrol setiap percakapan. Pria berbicara panjang lebar, lebih banyak berinterupsi dan mangontrol topik pembicaraan, Aires (1976); Busk (1982); Haas (1979); Hall (1984); Henley (1977); Lakoff (1975); Mayo & Henley (1990); dan Spender (1990) dalam Frances Elaine Donelson, (1999). Ketika pria tidak yakin terhadap apa yang diucapkan atau tidak menemukan kata yang tepat, mereka akan bergumam “Um” atau “Ah”. Sebaliknya, dalam keadaan yang sama wanita akan berhenti berbicara (Frances, 1979 dan Hall, 1987 dalam Frances Elaine Donelson, 1999).

Berikut perbedaan cara berkomunikasi antara pria dan wanita secara lebih detail berdasarkan hal-hal yang mendasar dalam proses berbicara,

Komposisi Pembicaraan

Berdasarkan stereotip, wanita bersifat temberang. Wanita sangat suka berbicara melalui telepon, mengobrol berjam-jam dengan tetangga sebelah, dan kebanyakan tidak mau diam. Dalam sebuah penelitian yang meminta pria dan wanita untuk menggambarkan 3 pekerjaan artistik, pria berbicara 4 kali sama seperti wanita. Faktanya, 3 dari 17 pria dalam penelitian tersebut berbicara selama 30 menit sejalan dengan berjalannya rekaman kaset dan tidak termasuk komentar yang dikeluarkan (Swacker, 1975 dalam Frances Elaine Donelson, 1999).

Pria lebih sering menginterupsi wanita daripada menginterupsi sesama pria (Busk, 1982; Carli, 1990, Hall 1984; McMillan, Clifton, McGrath, & Gale, 1977; McMullen, 1992; Smith-Lovin & Brody, 1989; Steward, Cooper, & Friedley, 1986; Zimmerman & West, 1975 dalam Frances Elaine Donelson, 1999). Smith-Lovin & Brody (1989) dikutip (Frances Elaine Donelson, 1999) Ketika pria mencoba menginterupsi sesama pria, mereka tidak sesukses ketika menginterupsi wanita. Ketika beberapa kali wanita menginterupsi pria, mereke berekspresi atau memberi dukungan dengan kata “Yeah”, “Mm-hmm”, “Benar”. Hal ini sulit untuk mempertimbangkan interupsinya, karena ekspresi tersebut justru memberikan dorongan kepada pria untuk terus berbicara. Zimmerman dan West (1975) dalam Matlin (1987) mendengarkan percakapan di kafe, toko obat, dan tempat umum lain di dekat sebuah universitas, mereka menemukan 96 % pria melakukan interupsi. Wanita tidak protes akan interupsi tersebut dan mereka justru diam setelah diinterupsi. Pada kesimpulannya, terdapat perbedaan antara pria dan wanita pada komposisi pembicaraannya. Jika dibandingkan dengan wanita, pria berbicara lebih banyak, menggunakan jeda, dan menginterupsi lebih banyak (Matlin, 1987).

Kualitas Suara

Jika disadari lebih dalam, saat berbicara pria bernada lebih rendah dari wanita. Banyak alasan yang membedakan pria dan wanita untuk menghasilkan nada tinggi atau rendah saat berbicara (LaFrance & Mayo, 1978 dan Sachs, 1975 dalam W. Matlin 1987). Perbedaan anatomi tubuh pada pria dan wanita bukan hal yang membedakan secara utuh tentang perbedaan nada bicara tersebut, ketika memasuki masa puber suara yang dikeluarkan pria dan wanita juga akan berbeda. Bahkan, mereka juga harus belajar mengeluarkan suara sewajarnya yang disesuiakan dengan jenis kelaminnya. Dalam suatu percakapan di telinga pria, suara orang-orang biasanya hanya terdiri dari tiga macam: rendah, sedang, dan tinggi. Namun, wanita mendengarkan suara dengan lebih rinci: air keran menetes, tangis bayi, anak kucing mengeong, dll (Kompasiana, 10-10-2011).

Nada suara bukan satu-satunya karakter yang membedakan suara pria dan wanita. Karakter lain yang sangat penting adalah intonasi (McConnel-Ginet, 1978 dalam W. Matlin 1987). Intonasi sangat berpengaruh dalam menyampaikan suatu informasi, sebuah kalimat biasa akan berbeda arti jika diucapkan dengan intonasi yang berbeda. Wanita lebih banyak menggunakan intonasi suara saat berbicara, sedangkan pria menggunakan intonasi yang konstan, McConnel-Ginet (1978) dalam Matlin (1987). Brends (1975) dalam Matlin (1987) menyatakan bahwa kepastian intonasi terlihat pada wanita, seperti sopan dan terlihat gembira.

Kata dan Frase

Wanita biasa menggunakan kata-kata deskriptif, seperti misalnya dalam menerangkan warna mereka sering menyebut keabu-abuan, biru lembayung muda, dan biru laut (Lakoff, 1973 dalam Matlin 1987). Sebenarnya tidak ada analisis statistik yang menunjukkan hubungan penggunaan bahasa dan perbedaan gender. Karakter dari orang yang berbicara dan di mana ia bicara mempengaruhi pengungkapan perbedaan gender (Matlin, 1987).

Haa’s (1979) dalam Matlin (1987) menyimpulkan bahwa wanita sering mengucapkan kata sifat daripada pria. Wanita akan lebih sopan ketika berbicara (Kemper, 1984 dalam Matlin 1987). Dan beberapa penelitian yang lain menyebutkan bahwa wanita berbicara dengan tata bahasa yang baik (Key, 1975; Thorne & Henley, 1975 dalam Matlin 1987). Di sisi lain, pria berbicara dengan logat dan kata-kata kotor. Hal ini sudah terlihat sejak awal-awal usia sekolah (Jay, 1980 dalam Matlin 1987).

Konten Percakapan

Hal apakah yang sering dibicarakan antara pria dan wanita ? Wanita biasanya membicarakan tentang perasaan orang lain, sedangkan pria membicarakan tentang objek (Barron 1971 dalam Matlin 1987). Guntar (2008) juga membedakan jenis pembicaraan wanita dan pria. Girls Like People, wanita cenderung mengatakan hal-hal yang berkaitan dengan perasaan seseorang seperti ia sedang suka dengan siapa, sedang marah dengan siapa dan saling berbagi rahasianya kepada orang lain. Sedangkan Boys Like Things, pria lebih senang membicarakan tentang benda dan bagaimana mekanisnya. Mereka sering membicarakan tentang teknologi, olahraga dan barang-barang bermesin. Tapi bukan berarti pria tidak pernah membicarakan orang lain. Tentu saja pernah, tapi ranahnya masih dalam konteks olahraga atau teknologi.

Alasan Pria dan Wanita Bicara

Jika wanita sedang memiliki kegalauan utama, ia akan terdorong untuk mengungkapkannya semua hal yang ada di otaknya, mereka cenderung curhat tentang apa yang dirasakannya dan meminta solusi kepada orang yang diajak bicara. Sedangkan pria berbicara karena ingin berbagi informasi, mencari penyelesaian masalah atau bahkan menunjukkan dominasi (Guntar, 2008)

Tempat Pria dan Wanita Bicara

Jika pria dan wanita memiliki perbedaan konten pembicaraan, mereka juga pasti memiliki preferensi yang berbeda. Pria lebih senang mengobrol di keramaian karena hal yang dibicarakan bukan suatu kerahasiaan. Sedangkan wanita lebih suka mengobrol di tempat sepi, karena hal-hal yang mereka bicarakan biasanya bersifat rahasia dan sensitif (Guntar, 2008)

Dari perbedaan-perbedaan di atas Allan dan Barbara Peaze, penulis buku “Why Men Don’t Listen & Women Can’t Read Maps”, menyatakan tentang gaya komunikasi wanita yang tidak disukai pria, antara lain karena wanita Berpikir sambil berbicara, Berbicara banyak hal dalam satu cerita, interupsi saat bicara (biasanya ia menginterupsi kapan saja), bicara berbelit-belit (saat ditanya suatu hal seringkali wanita menjawabnya dengan berbelit-belit, kebiasaan ini biasanya dilakukan saat terdesak atau untuk menutupi masalah), diam untuk menunjukkan rasa tidak suka (kosmo.vivanews.com 06-10-2011)

Setelah mengetahui perbedaan tentang cara bicara pria dan wanita, kini kita lebih bisa menentukan sikap ketika berbicara dengan pria atau wanita untuk menyesuaikan diri agar informasi yang diberikan dapat diterima dengan persepsi yang sama. Selain itu, kita juga akan lebih bisa memahami karakter pria dan wanita agar ketika berbicara dengan 2 makhluk yang berbeda ini tidak salah konteks pembicaraan dan pembicaraannya pun dapat berjalan dengan adanya timbal balik yang baik.

Daftar pustaka

Donelson, Frances Elaine (1999). Women’s Experience : A Psychology Perspesctive. California : Mayfield Publishing Company

Drabbs, Mary Eleanor, BS, MS, (1997). Experiences that shape women’s ideas about physical activity: A qualitative study. ProQuest Dissertations and Theses. (PQDT). Diakses pada 8 November 2011 pukul 12:02

Guntar, A (2008). Beda Pria dan Wanita dalam Berkomunikasi. Dari ahmadGuntar.com diakses pada 23 Desember 2011 pukul 19.27

Maltin, Margaret W (1987). The Psychology of Women. Winston

Suprawoto, NA. “Pembelajaran Berbicara.” Dari http://www.slideshare.net/NASuprawoto/pembelajaran-berbicara, diakses pada 16 November 2011 pukul 19:31

2011. Cara Asyik Ngobrol Pria-wanita. Dari kompasiana.com diakses 23 Desember 2011 pukul 19.30

2011. Kebiasaan Bicara Wanita yang Tak Disukai Pria. Dari kosmos.vivanews.com diakses pada 23 Desember 2011 pukul 19.29

Cerita tentang Hujan

Hujan, telah banyak menghamburkan harapan.
Dari para peladang sudut desa sampai pengojek payung pinggir kota.
Hujan, juga telah menggali emosi semua ingatan, membangkitkan angan serta luruh dalam syukur bahkan ribuan
Aku terpaku melihat butiran yang ikhlas jatuh dari peraduan, Kembali membekaskan kisah pengokoh masa depan.
Aku tertegun merasakan jatuhan, Kerlingan sejuk dahan hujan yang Tersedak saat tiba pada dermaga khayalan insan.
“Kau baik-baik saja ?”
“Alhamdulillah !”
“Nyamankah ?”
“Hhm, ternyata iya !”
“Kudoakan semoga lancar..”
“Terimakasih banyak”
“Nanti akan ku hubungi lagi”
Lagi-lagi, hujan datang membawa cerita. Cerita yang akan selalu bersatu dengan harmoni cinta.
Cinta yang kemudian menyatu menjadi bagian-bagian serunai perjalanan.
Hujan telah berkali-kali menahanku dalam ini keadaan.
Bergelut dengannya kembali menyulam langkah yang telah lama bungkam.
Menyembunyikan segala ratapan kerinduan di perantauan, meski hanya nyanyian musang yang kembali mengingatkan akan kampung halaman yang tak pernah suram dari merdunya Al-Qur’an.
Bahkan simphony cinta yang seringkali merayu pun tak kuasa untuk menahan, akan segala kisah hujan yang akan ku bawa pada gerbang kematian.
Tak berujung pada kelekatan iman aku dan bulan, bahkan cerita hujan selalu memaksaku untuk tetap tunduk pada perintah Tuhan, tak terkecuali dalam terpaksanya keadaan.
Cerita hujan kini berhasil menumpahkan segala harapan, dari membuang kisahku yang dulu suram dan kemudian menggantinya dengan sinar penuh harapan.
Kepada ibu bapak dan segala keterbatasan, atas nama diriku ku tepiskan juga bahwa kau adalah makhluk terindah setelah Rasulullah yang telah menghias kuncup hidupku dengan pelukan kasih sayang hingga ku menemukan Tuhan dalam kisah hujan pagi ini…

Coba Dengarlah

ku mohon..
alihkan dulu sejenak
pandangan dan rindumu
padaku, jelas !
sebentar saja dengarkan aku !

aku tak ingin kau sebut jadi sahabat
jika tak mampu tanganku menyentuh dasar nuranimu
jika tak mampu kau ingat ku dalam baris guraumu

sungguh..
coba dengarlah dulu
mungkin ini hanya kidung bagimu
tapi, ini tulus tertembus dalam serat doaku untukmu
dengarlah sahabat
pesan yang ku sampaikan dalam nafas kerinduanku padamu
dari jauh melalui serutan tambang nadi yang menjulur di dalam

janganlah kau tangisi lagi
biarkan sejenak dia pergi
toh juga cintamu masih di sini
tapi jangan kau sedikit ragu
bahkan kau sebut galau
karena cintamu jauh lebih dekat dari urat nadimu
Dialah yang memberikanmu cinta, rindu dan bahagia yang membahana
biarlah Diayang tumbuh dan memenuhi cintamu
saat ini dan nanti…

Aku harus bertanya kepada siapa ?


Aku harus bertanya kepada siapa ?
Kemana arus ini akan bermuara
Bukankah dulu kita pernah duduk bersama
Membicarakan cita-cita dan menggali semua yang kita punya

Aku harus bertanya kepada siapa ?
Bukankah dulu kamu yang mengajak berkoar
Tunggu sebentar !
Kau tak mungkin lupa
Kita pernah beradu di mega keemasan
Mengikrar diri dan menjadi saksi
Kisah syahdu awal perjalanan ini
Tentunya jalan yang kita pilih dan ingini

Aku harus bertanya kepada siapa ?
Akankah hulu mengantar ke hilir
Kalau jala saja tak tahu kemana anak ikannya terusir
Akankah kanvas dapat rapi terukir
Jika tak tahu kepada siapa ia ajak bepikir
Akankah anak kecil itu mengenal petir
Jika kami saja tak tahu arah harus kemana disetir

Sekali lagi,
Maka aku harus bertanya kepada siapa ?
Jika mau pun tak mampu bertanya...