Teduh, melihat parasnya yang senantiasa tergambar beriak
air wudlu.. berseri, lembut senyumnya sekian menyapa semua orang yang terlalui,
walau kini ku kenal mereka penuh rasa perih, pedih, ringkih jika tidak iman
yang menguatkannya. Hanya kata-kata nama Allah yang keluar dari bibirnya, hanya
setiap tengah gelap waktunya menyandar sekedar bercerita tentang perihnya,
hanya kepada hati ia berani menyadur diri sendiri. Bukan kepada manusia lain ia
berpesan kesahnya, tapi kepada yang lain ia sumbang senyum bahagia saudaranya. Meski
tak dimengerti, mungkin tubuhnya kini sedang dikejar mati. Hanya itu yang
membuat ia bergerak dan tetap tegak. Dan orang lain hanya melihat..
Hanya yang membuatku benar-benar malu, malu karena
melihatnya saja aku tengkurap rindu... rindu.. rindu akan kemilitan yang kini
kian pudar, entah pudar ditelan zaman atau pudar ditelan keangkuhan dan
keegoisan ?
Namun mereka, hadir. Hadir memperkenalkan diri sebagai pejuang,
mengusung asas kemilitansian.. dengan bukti, lihatlah mereka selalu datang di
saat semuanya masih tengkulap kekenyangan, bisa jadi mereka datang justru
karena lapar, lapar meneguk pahala yang ranum, bagi mereka. Bukan karena alasan
prestige ia hadir, bukan pula riuh tepuk tangan mengusung angkuh, apalagi
pamrih yang membuatnya merasa lebih. Mereka tak datang karena dipanggil, mereka
datang karena terpanggil.
Masihkah ia menunggu ?? Jika ia sendiri tahu siapa yang
perlu dibantu. Sadar, tak peduli dirinya butuh bantuan tapi yang ditanya siapa saudaranya
butuh bantuan ? tak pernah ditanya tentang hidupnya, lewat.. tapi yang selalu
ditanya bagaimana perkembangan saudaranya. Subhanallah.. bukan karena ingin
terkesan ia belajar pandai. Bahkan bukan karena tuntutan ia memindai, sendiri. Ke
dalam diri. Ia leading diri sendiri,
kemudian mencerah di sekitar garis merah.
Tegas, tak memihak budi pribadi namun objektif melihat
nurani. Mereka tak sibuk mengurus diri sendiri, umat yang mereka cintai namun
tak melupakan kewajiban tunjuk Illahi. Mereka mengkaji dan kemudian berbagi,
bukan menafsiri semua dan berprasangka sendiri. Mereka belajar kemudian memahami, bukan mengejar kemudian
mengamini. Mereka beramal untuk mengabdi, bukan menjegal kemudian memenangkan
diri. Mereka lupa kata lelah apalagi mengalah. Sampai pendar matahari ia bilang
anugerah, guntur gemuruh ia bilang berkah. Semua indah di mata pejuang.
Mutlak ia menang. Tak ada luput dari pandangan, tak ada
lepas dari ingatan, tak ada lewat dari perhatian. Kewajiban seakan jadi mainan,
karena bahagia mengusung setiap langkah kakinya, bukan keluh banyak amanah di
pundaknya. Terlena akan doa adalah dosa, tangannya menjaring tepat makna..
kepada keluarga, tetangga, buku dan saku tak ada beda, perhatiannya sama
besarnya. Karena cinta yang ada dalam hatinya, menjaring makna di setiap derap
kakinya. Apapun alasannya, semua berlandas cinta pada Rabbnya.
Militansi akan segera kembali, jika ego segera berdamai
dengan hati, bersinergi dengan kaki. Jadilah ia pejuang sejati, menjual jiwa
raga dengan ikhlas. Menjadi manusia langit yang takkan lepas kendali. Berjamaah
mencari ikatan hati dan bergerak dengan riang hati. Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min, diri dan
harta mereka dengan memberikan syurga untuk mereka (At-Taubah : 11)
Dan sekarang bukan lagi merenungi usia yang telah semakin
tua, meski telah kalah dengan Muhammad Al-Fatih yang mampu bertandang memberi
bukti kesungguhan amalnya. Mari kita teladani beliau, pantaskan diri menjadi
seorang yang memang pantas dikenang sejarah bukan sebatas tertulis tinta namun
melekat dalam lubuk hati, sampai nanti sampai mati. Karena bukan ditanya telah
jadi apa kau kemarin, tapi telah kau lakukan apa, nanti.. nanti dalam
perhitungan keadilan Tuhan. Tapi sekarang, mari muhasabah dan bangun diri
kembali. Ia telah lelah mengalah dan saatnya tiba masa berbuah.
Momen Ramadhan ini kawan, yuk manfaatkan dengan seksama bijaksana.
Tak Cuma meningkatkan kualitas diri dan mari aktualisasikan diri, tak hanya
pada diri pribadi dan tiliklah mereka yang menanti. Mari aktif memberi dan tak
hanya pasif diberi. Happy Ramadhan J
Suciati Zen Nur Hidayati
Asrama UI Depok, 21 Juli 2012 23:40